Waspada Ancaman Virus Hanta, Makan Korban Penumpang Kapal Pesiar
Dunia pelayaran dikejutkan dengan kabar duka dari kapal pesiar MV Hondius yang tengah melintasi Samudra Atlantik. Virus hanta, sebuah virus langka yang ditularkan melalui tikus, dilaporkan telah menewaskan tiga orang penumpang dalam insiden yang tragis. Melansir The Guardian (3/5/2026), korban jiwa mencakup pasangan suami istri lansia asal Belanda serta satu penumpang tambahan. Penyakit ini sering kali menipu karena gejalanya menyerupai flu ringan, namun faktanya bisa berakibat fatal dalam waktu singkat. Saat ini, beberapa penumpang lain masih berjuang sembuh, termasuk seorang warga Inggris yang sedang dalam perawatan intensif di Afrika Selatan.
Tragedi ini bermula saat kapal pesiar MV Hondius tengah berlayar dari Argentina menuju Cape Verde. Di tengah perjalanan melintasi Samudra Atlantik, sejumlah penumpang mulai merasakan gejala sakit yang mencurigakan. Nasib malang menimpa pasangan suami istri asal Belanda; sang suami dinyatakan meninggal dunia saat kapal berada di Pulau Saint Helena. Tak lama berselang, sang istri juga tutup usia setelah sempat dievakuasi ke sebuah rumah sakit di Kempton Park, Afrika Selatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan perhatian serius terhadap insiden hantavirus yang terjadi baru-baru ini. Saat ini, tim ahli sedang menjalankan investigasi epidemiologi serta analisis pengurutan genetik guna mengidentifikasi asal-usul wabah tersebut. Dalam rilis resminya, WHO menekankan bahwa penyelidikan mendalam dan pengujian laboratorium sedang berlangsung, sembari memastikan seluruh kru dan penumpang mendapatkan bantuan medis yang diperlukan. WHO juga mengingatkan bahwa meski jarang terjadi, virus hanta tetap memiliki risiko penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu.
Asal-Usul Virus Hanta: Dari Korea Selatan ke Seluruh Dunia
Virus hanta sebenarnya sudah dikenal sejak lama dalam dunia medis. Berdasarkan data dari Japan Times (4/5/2026), identifikasi pertama virus ini terjadi pada dekade 1970-an di sekitar wilayah Sungai Hantan, Korea Selatan. Virus ini menjadikan hewan pengerat, seperti tikus dan mencit, sebagai inang utamanya. Proses penularan ke manusia umumnya terjadi lewat persinggungan langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, mulai dari urine, air liur, hingga kotoran tikus.
Satu hal yang perlu diwaspadai adalah risiko penularan virus hanta melalui udara (airborne). Ancaman ini muncul ketika sisa kotoran atau urine tikus yang telah mengering hancur menjadi partikel debu halus. Tanpa disadari, partikel yang mengandung virus ini bisa terhirup oleh manusia, terutama saat melakukan aktivitas pembersihan di lokasi yang menjadi sarang tikus tanpa menggunakan masker pelindung yang memadai.
Mengenal Fase Bahaya Virus Hanta: Dari Flu Hingga Sesak Napas Akut

Virus hanta dikenal memiliki fase perkembangan penyakit yang drastis. Pada tahap awal (minggu ke-1 hingga ke-8), penderita hanya akan merasakan tanda-tanda umum seperti demam tinggi, nyeri otot di anggota tubuh besar, dan rasa letih yang parah. Kesamaan gejala ini dengan flu biasa membuat deteksi dini dalam 72 jam pertama menjadi tantangan besar bagi tenaga medis. Bahaya sesungguhnya muncul di fase berikutnya, yakni sekitar 4 hingga 10 hari setelah gejala awal, di mana penderita mulai mengalami penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan sesak napas berat. Tanpa penanganan cepat, risiko kematian akibat infeksi ini cukup tinggi, yakni di angka 40%.
