×

Pengembangan Vaksin Hantavirus Masih Butuh Waktu Panjang

Pengembangan Vaksin Hantavirus Masih Butuh Waktu Panjang

0 0
Read Time:2 Minute, 24 Second

Insiden hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius baru-baru ini meningkatkan urgensi penelitian vaksin bagi virus tersebut. Walaupun studi terus dilakukan, para pakar memprediksi bahwa vaksin hantavirus tidak akan tersedia dalam waktu dekat. Berdasarkan laporan NBC News (8/5/2026), proses pengembangan ini diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun. Kurangnya kucuran dana serta rendahnya atensi dari komunitas internasional menjadi faktor utama yang menghambat percepatan riset selama ini.

Sabra Klein, profesor mikrobiologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, menyoroti bahwa hantavirus sering kali dipandang sebelah mata oleh lembaga donor. Menurutnya, alokasi dana penelitian sangat terbatas karena virus ini dianggap tidak memiliki potensi untuk memicu pandemi global.

Hal senada diungkapkan oleh Matt Slade, pendiri EnsiliTech. Meski perusahaannya telah meneliti vaksin ini selama 1,5 dekade, ia mengakui bahwa hantavirus adalah kategori penyakit yang terabaikan. Minimnya perhatian dari dunia internasional membuat riset berskala besar di bidang ini hampir tidak ditemukan.

Mengintip Kecanggihan Vaksin Hantavirus Milik EnsiliTech

Sama seperti vaksin Covid-19, vaksin hantavirus besutan EnsiliTech juga mengusung teknologi mRNA. Vaksin ini dirancang khusus untuk melawan virus hanta yang umum di wilayah Asia Timur, di mana infeksinya bisa berakibat fatal pada fungsi ginjal dan sistem peredaran darah.

Menariknya, EnsiliTech berusaha memecahkan masalah logistik yang selama ini menjadi kelemahan mRNA. Jika vaksin Pfizer/Moderna butuh kulkas suhu sangat rendah, Slade dan timnya berambisi membuat vaksin yang tetap aman meski disimpan dalam suhu ruang normal. Inovasi ini diharapkan mampu mempermudah distribusi, meski masalah klasik pendanaan tetap membayangi.

EnsiliTech memperkenalkan inovasi bernama “ensilication”—sebuah metode pelindungan menggunakan material silika untuk menjaga stabilitas mRNA agar tetap terjaga. Walaupun teknologi ini menjanjikan, vaksin hantavirus tersebut belum juga melangkah ke fase uji coba pada manusia. Matt Slade memproyeksikan bahwa uji klinis tahap pertama baru dapat terlaksana dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Ia juga memperingatkan bahwa tanpa dorongan masif setara Operation Warp Speed, perjalanan vaksin ini hingga siap digunakan bisa memakan waktu lebih dari sepuluh tahun.

Vaksin Hantavirus di Asia Timur dan Rekam Jejak Sejarahnya

Direktur Precision Vaccines Program di Boston Children’s Hospital, Ofer Levy, mengungkapkan bahwa China dan Korea Selatan sebenarnya telah memproduksi vaksin hantavirus. Meski demikian, efektivitas penggunaan vaksin tersebut dilaporkan masih bervariasi dan distribusinya belum menjangkau pasar internasional. Levy juga menambahkan bahwa urgensi pengembangan vaksin ini sebenarnya bukan hal baru; ketertarikan global sudah ada sejak era Perang Dunia II, tepatnya saat personel militer Amerika Serikat terjangkit virus ini di wilayah Eropa Tengah.

Tantangan Pendanaan di Balik Kelangkaan Wabah Hantavirus

Meskipun mematikan, fakta bahwa wabah hantavirus secara global masih terhitung jarang justru menjadi bumerang bagi pendanaan riset. Ofer Levy menekankan bahwa hantavirus belum pernah mendapatkan momentum percepatan riset besar-besaran layaknya program “Warp Speed”. Kini, insiden di kapal pesiar MV Hondius memang kembali memicu diskursus publik mengenai pentingnya vaksin. Namun, para pakar menegaskan bahwa tanpa sokongan dana yang masif serta kolaborasi lintas negara dalam jangka panjang, ketersediaan vaksin bagi masyarakat luas masih sebatas angan-angan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %